
Blog Majalah Pearl
Sambil meminum secangkir teh,
selamat membaca artikel-artikel kami!
Menjaga Kekudusan
Berbicara tentang menjaga kekudusan... Hmm... Emang sebenernya kita tuh gak kudus yah? Atau... Sebenernya kita kudus, tapi bisa jadi gak kudus karena kelalaian kita? Apa sih maksudnya kudus? Apa yang harus kudus?
In the Carpenter's Shed
Have you ever wondered... Have you ever asked what tools Jesus uses when He work on His beloved? I had imagined that His workplace would be like a nursery... The far-off tinkling sound of wind chimes... The soft soothing colors of the wallpaper... The cuddly toys... The puffy bedcover... The relaxing music... Everything that a tired soul needs to recharge and relax.
Menghitung Hari-hari
Di akhir tahun 2013, saya mengikuti sebuah camp di salah satu seminari Alkitab di Malang. Pada tanggal 31 Desember malamnya, saya dan para peserta camp itu diminta untuk menuliskan kesan di tahun 2013 dan resolusi untuk tahun 2014 di sebuah kertas. Kertas itu kemudian digulung dan dimasukkan ke dalam sebuah botol. By the way, salah satu bagian yang membuat saya speechless dari resolusi yang saya buat itu adalah…
Build the Right Strongholds
Hi, ladies zaman now! Menurut kalian, mana yang lebih mudah digandrungi saat ini? Menjadi netizen maha-update (yang selalu mengikuti perkembangan terkini), atau wanita kekinian yang tekun memperlengkapi dirinya menjadi a Godly woman?
Sehati Sepikir dan Penundukan Diri
"Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!" (Roma 12:16 / TB)
Sewaktu membaca kalimat ‘sehati sepikir dalam hidupmu bersama’, aku langsung memikirkan suamiku. Memang, sebenarnya konteks dan latar belakang ayat ini bukan membicarakan hubungan suami istri, tapi bagiku ayat ini menjadi rhema khusus untuk diaplikasikan dalam hubungan dengan suami.
Tuhan & Samuel Kecil
Sate tadi pagi tentang Samuel yang dipanggil Tuhan 3 kali. Gue dah denger cerita itu dari sejak sekolah minggu kaliii... Tentang Samuel yang baru tidur malem-malem trus tiba-tiba dipanggil Tuhan. Nah tadi pagi pas gue baca bagian itu lagi, gue mendapat sesuatu yang baru…
On Submission (Part 2)
Suatu hari, mobil kami mogok. Suami dan saya sama2 gak ngerti mesin. Tapi karena suami saya orang yang sangat bertanggung jawab, dia belajar untuk bisa ngatasin urusan mobil yang simpel2 di saat darurat. So, setelah diutak-atik ga berhasil, dia bawa accu mobil buat disetrum. Setelah kembali, ternyata mobil masih ga mau hidup.
Ga lama kemudian, suami panggil seorang montir ke rumah. Montir ini belum pernah saya liat sebelumnya. Ternyata suami saya dapet "nemu" di bengkel tempat setrum accu. Maka sebagai istri yang selalu punya pendapat sendiri (dan pendapatnya adalah yang paling bagus dan paling bener), dahi saya langsung berkerut dan saya langsung meringkik dalam hati, "WHATTT???!"
On Submission (Part 1)
Salah satu perintah paling populer tapi paling SUSYEH buat para istri, terutama istri yang agak bedegong (= semau gue) seperti saya, adalah: “Hai isteri-isteri, TUNDUKLAH kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.” (Kolose 3:18)
Tunduk itu apa sih?
On Submitting & Trusting
Submission... Submission... Submission. Hal yg menyebalkan, bener gak? Jujur, untukku yang emang pada dasarnya punya sifat super bossy, submit ama suami itu hal yg super duper susah. Setiap hari, setiap waktu, aku harus selalu berdoa, minta Tuhan sendiri yg tegur kalo udah mau mulai bossy ama suami, dan ini seringgg banget lho. It’s an area that I continuously struggle with. Apalagi dulu kuliahnya di bisnis dan marketing, dimana emang kami diajarin utk memimpin. *gubraks* Jadi apa yg dulu aku pelajari, sekarang harus aku redam kalo lagi ama suami.
Galau Pranikah
Berkaca dari pengalaman, biasanya ini nih yang ada di pikiran para calon penganten:
Galau. Bimbang. Takut salah melangkah. Masih belum sreg, belum ‘yakin 100%’.
Senang dan excited sih, tapi... - banyaaaak banget tapinya, bener apa betul? ;) Apa sebaiknya ditunda aja ya?
Suffering for a Better Future
Take this cup from Me. (Mark 14:36)
Perkataan ini bisa jadi sebuah ungkapan kegalauan hati tentang kehidupan. Sebuah respon yang sangat manusiawi. Namun, it was also the ultimate statement of surrender (the best part at all). Di mataku, tindakan Yesus untuk setia berjalan dalam penderitaan demi keselamatanku di masa depan itu romantissss tisss tisss... Bayangkan! Yesus berkorban nyawa demi cinta-Nya kepadaku. Sebagai Anak Allah, Yesus bisa saja menolak kehendak Bapa-Nya dalam melakukan karya keselamatan yang agung itu. Tapi di sisi lain, Yesus juga memikirkan umat-Nya terkasih (termasuk kita, ladies!) yang akan binasa jika Dia tidak mengorbankan diri-Nya untuk menebus dosa-dosa kita.
(Bukan) Memanipulasi Pasangan
“Si Dina sama lho, kayak Adek”, kata suamiku beberapa waktu yang lalu. FYI, Dina tuh, sepupuku yang umurnya baru 4 tahun. Dia lucu dan cerewet banget. Dia suka nempel sama suamiku dan minta ditemani bermain.
“Sama kenapa, Bang?”
“Iyaaaa... Masak dia minta Abang pilih-pilih baju di game-nya, terus akhirnya, eh… dia malah milih pilihannya sendiri. Wanita di mana-mana sama ya, Dek. Gak besar atau kecil, sama aja.”
Aw. Aw. Aw. Aku tertawa, tapi juga merasa tersindir.
Help! I Married the Wrong Person!
Single: “Idih, amit2 ya jangan sampe kejadian...” (sambil ngetok kayu dgn giat)
Istri/suami baru: “Puji syukur, gue married the RIGHT person...”
Istri/suami rada lama yang jujur: “Kadang rasanya gue married the wrong person, kadang rasanya the right person. Mana yang bener ya?”
Istri/suami rada lama yang terlalu jujur: “Huh, gue yakin gue married the wrong person. Gue dulu merit cuman demi... Bla bla... Sekarang bertahan juga cuman demi... bla bla...”
Seperti Kristus Menundukkan Diri
“Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.” (1 Korintus 11:3 / TB)
Tidak seperti tulisan Paulus dalam Efesus 5, dalam 1 Korintus 11:3 ini Paulus menambahkan kalimat yang menarik (dan penting): “Kepala dari Kristus adalah Allah.” Dari sinilah asal-usul penundukan diri istri kepada suami, dan karena itu dari sinilah kita perlu belajar.
Submitting and Obeying Our Parents
“Sepanjang gak bertentangan dengan firman Tuhan, suara orang tua bisa jadi adalah suara Tuhan,” ucap seorang tanteku bertahun-tahun yang lalu padaku.
“Oh yeahhh, really Meg? Serius?”
Yup. Aneh ya kedengarannya? Mosok sih segitu pentingnya dengerin ortu, itu seakan-akan kita mau bilang suara ortu sama dengan suara Tuhan. Ya kan?
Wedding Vow and Keeping It Real
You are God's special gift for me. You are now my best friend & family. Today I want to promise you, by God's grace & power working within me I desire to be trustworthy as your wife by following your leading submissively, even as unto Christ. Through the pressures of the present, & uncertainties of the future I promise my faithfulness, to follow you through all of life's experiences as you follow God, that together we may grow in the likeness of Christ & our home be a praise to Him. Even as Ruth promised her mother-in-law, today I promise you "Where you go, I will go, & where you stay I will stay. Your people will be my people, and your God my God. Where you die, I will die and there I will be buried. May the Lord deal with me ever so severely if anything but death separates you and me.
SHARING SESSION: Loving Through Submissiveness
Sepanjang bulan Oktober ini, kita akan belajar bersama tentang submissive. Menurut Cambridge Dictionary(1), submissive berarti allowing yourself to be controlled by other people or animals (mengizinkan diri dikendalikan oleh orang lain atau hewan—yah, tentunya di sini kita nggak akan belajar untuk dikontrol oleh hewan ya. Hahaha). Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, submissive berarti ketaatan atau ketundukan kita pada orang lain. Dalam artikel ini, yang akan menjadi “tujuan” dari ketaatan kita adalah suami—selain kepada Tuhan, tentunya.
Speak The Truth In Love
Gals, kali ini kita akan belajar bagaimana berbicara tentang kebenaran dengan kasih. Tokoh yang akan kita pelajari adalah Yitro, mertua Musa.
Setelah Musa dan bangsa Israel berada di padang gurun, Yitro datang mencari Musa bersama dengan istri dan anak-anaknya. Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari Yitro ketika dia memberikan nasihat kepada Musa—yang masih relevan sampai hari ini.
Si Pemburuk
Apakah pembaca punya teman/anggota keluarga/kenalan yang selalu punya hal buruk untuk dibicarakan tentang orang lain? Sebut saja orang itu si pemburuk—karena dia membuat siapa saja kelihatan buruk. “Si A orangnya baik ya, mau bantuin temen yang lagi susah,” kata kita. “Iya sih, tapi lu ga tau aja gimana dia kalo lagi marah,” kata si pemburuk; dan dimulailah sesi rumpi. Atau tentang seorang pengkhotbah di gereja, “Khotbahnya bagus ya!” ujar kita. Si pemburuk menyahut dengan nyinyir, “Asal dia sendiri bisa praktekin khotbahnya aja.”
Ketika Kasih Berkata Tidak
Guys, akhir-akhir ini gue lagi beresin file-file lama gue en nemu beberapa tulisan yang gue suka. :p Salah satunya puisi ini. Puisi ini gue tulis di saat gue habis putus. :p
Banyak orang kecewa sehabis putus karena sehabis putus yang katanya 'baik-baik', kok ex nya menjauh dan sulit dihubungi. :p Katanya kita putus baik-baik, kok loe sekarang jadi gitu sih!?!?!? Well the truth is, abis putus, hal terbaik yag bisa kau lakukan utk ex mu dan untuk dirimu sendiri adalah... memutuskan segala jenis kontak sampai hati kalian berdua bisa lebih pulih kembali.