Cari artikel?
Sepanjang Tahun
“Lebih dari sekadar ego?” Kok, mirip judul lagunya Mawar Eva de Jongh, ya…
Bukan, kita tidak sedang memperbincangkan lagu, melainkan tentang zero waste. Pernah dengar? Mungkin beberapa di antara kita sudah tidak asing, bahkan sudah melakukannya. Namun, buat yang lebih ingin tahu lagi, yuk, kita sama-sama belajar memahami istilah ini.
Postingan terakhir
“Lebih dari sekadar ego?” Kok, mirip judul lagunya Mawar Eva de Jongh, ya…
Bukan, kita tidak sedang memperbincangkan lagu, melainkan tentang zero waste. Pernah dengar? Mungkin beberapa di antara kita sudah tidak asing, bahkan sudah melakukannya. Namun, buat yang lebih ingin tahu lagi, yuk, kita sama-sama belajar memahami istilah ini.
Pandemi Covid-19 yang baru saja berlalu adalah suatu kesempatan buat saya untuk mencoba hal-hal baru. Salah satunya adalah mencoba membuat roti sendiri. Karena pada dasarnya saya tidak suka masak, saya mencari resep yang paling mudah.
Pengalaman membuat roti sendiri ini membawa saya pada pengalaman saya memasak makanan rohani bagi diri saya sendiri.
Halo, Pearlians! Semoga semua dalam keadaan yang baik, semangat, dan bersukacita! Kali ini, kita mau membahas tentang drama Korea. Drakor alias drama Korea sedang trending tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Buktinya, banyak fans meeting diadakan di berbagai negara. Tentunya kita tidak hanya menikmati drama, tetapi juga bisa mengambil pelajaran-pelajaran yang disampaikan melalui drama tersebut, ya! Drama yang mau aku bahas kali ini berjudul "Pinnochio". Siapa yang pernah dengar? Siapa yang pernah nonton? Drama ini tayang pada tahun 2014 dan seru sekali untuk ditonton, lho!
Mau lebih banyak?
KLIK DISINI
Pearlians, khususnya bagi yang saat ini belum menikah atau bahkan belum menemukan pasangan, apakah kamu takut dan ragu ketika membaca berita saat ini? Atau kamu tetap terus berpengharapan dalam Tuhan, bahkan yakin sanggup bersinar di tengah keredupan bersama-Nya? Mari kita menengok pada salah satu contoh wanita yang diangkat oleh penulis Amsal. Siapakah wanita yang dimaksud ini?
"Aduh, lelah banget, nih, dengar pertanyaan yang gak berujung! Mulai dari pertanyaan:
'Kapan punya pacar?'
Kalau sudah punya pacar, pasti ditanya lagi:
'Kapan menikah?'
Lalu kalau sudah menikah, ada lagi pertanyaan-pertanyaan berikutnya:
'Kapan punya anak?'
'Kapan anaknya dikasih adik?'
'Ayo nambah lagi, kan belum ada yang laki-laki!'
Pokoknya gak ada habisnya, deh!"
Demikianlah curhatan salah satu teman kantor saya yang lelah dengan ekspektasi sosial atas dirinya. Ada yang mengalami hal yang sama?
Menjaga hati dengan segala kewaspadaan adalah cara proaktif untuk tidak jatuh dalam godaan seksual. Semua dimulai dari hati (pikiran, perasaan dan kehendak). Apa yang kita pikirkan akan mempengaruhi perasaan kita. Apa yang kita rasakan akan mempengaruhi kehendak kita. Apa yang kita tekadkan dengan kehendak kita akan muncul dalam bentuk tindakan.
Pada suatu hari, seorang teman curhat di media sosial tentang bagaimana dia telah berbuat baik kepada banyak orang; bukannya dihargai, malahan orang-orang yang menerima kebaikannya ngelunjak dan ingin memanfaatkan kebaikannya. Saat diingatkan bahwa dia pernah melakukan kebaikan bagi orang itu, eh malah dapat tuduhan kalau dia mengingatnya berarti dia tidak tulus. Nah, bagaimana menghadapi mereka yang seperti ini, dia bertanya. Bagaimana supaya orang lain tahu kita tulus dalam berbuat baik?
Jika kamu ingin dimaafkan – akuilah dosamu kepada Tuhan, namun jika kamu ingin dipulihkan – akuilah dosamu kepada seseorang. Perkataan Rick Warren ini adalah sebuah pengingat untuk kita semua, bahwa manusia adalah makhluk sosial yang terhubung satu sama lain, termasuk dalam hal mengakui kesalahan.
Pearlians pernah, dong, ngerasain yang namanya lagi jatuh cinta? Berjuta rasanya, ya? Kayanya bisa climb every mountain and swim every ocean, kan? Pokoknya apa aja asal menyenangkan si dia, deh… Hihihi… Semua pasti pernah ngerasain fase ini dan balada percintaan itu sangatlah wajar. Namanya juga lagi jatuh cinta, kan? Eh, tapi pernahkah Pearlians juga merasakan yang namanya cintanya tidak berbalas?
KATEGORI
Single
Relationship
“Mengapa sih, suamiku tidak menginginkan seks sebanyak yang aku mau?”
Pertanyaan ini muncul dalam benak seorang istri yang merasa kebutuhan seksualnya kurang terpenuhi. Rentetan pikiran ngaco pun memberondong hatinya:
Apa aku ini hiperseks?
Apa aku kurang seksi di mata suami?
Atau jangan-jangan suamiku punya WIL (Wanita Idaman Lain)?
***
“Mengapa, sih, suamiku terus menerus meminta berhubungan seks? Apa tidak merasa lelah?”
Pertanyaan ini pun muncul dalam benak seorang istri yang kelelahan. Setelah anak-anak tidur dan dapur bersih, rasanya hanya ingin segera memeluk guling dan tidur lelap. Kelelahan selama seharian mengurus bayi dan membereskan rumah membuat tubuh ingin segera istirahat.
Apa suami tidak paham aku lelah sekali?
Apa dia tidak berpikir mengurus anak dan rumah itu menguras energi?
Dulu, bila ada yang bertanya, “Kamu bertemu pasanganmu di mana?”, jawaban yang umum adalah “di gereja”, “dikenalin teman atau saudara”, “di sekolah”, “di tempat kerja”, dsb. Di kalangan Kristen sendiri, mungkin ada yang agak malu-malu atau sungkan bila menjawabnya dengan “dating apps”. Seperti masih ada paradigma yang kurang baik tentang dating apps itu sendiri. Hmm.. adakah Pearlians yang mengalaminya? Lalu, benarkah stigma demikian masih dipertahankan dalam era perkembangan teknologi seperti sekarang? Yuk, mari kita bahas.
“Dia, kan, anakmu sendiri. Kok, malah cemburu sama anak sendiri?” bisikku dalam hati. Aku tahu situasi demikian sebenarnya tidak baik untuk dibiarkan, tetapi aku sendiri pun tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk memperbaikinya.
Ada yang berpikir seperti itu juga kah?
“Sayang, aku hamil!” seru Nina seraya menunjukkan hasil test pack-nya pagi ini ke Bobi, suaminya, yang baru saja bangun tidur.
Mata sang suami yang tadinya masi setengah tertutup langsung terbuka lebar seiring dengan senyumnya yang merekah, kemudian keduanya berpelukan. Sejak hari itu, Nina mulai mempersiapkan diri. Dia makan dan minum yang lebih sehat serta rajin kontrol ke dokter kandungan. Selain itu, ia juga membaca buku atau unggahan medsos tentang bagaimana mendidik dan membesarkan seorang anak. Bobi tidak mau kalah. Kini dia makin semangat bekerja karena ia tahu bahwa biaya melahirkan dan kebutuhan bayi nanti tidaklah murah. Bobi yang dulu suka nongkrong di kafe bareng temannya kini tidaklah demikian, karena ia simpan uangnya untuk kebutuhan bayinya nanti.
Pearlians tentunya punya ekspektasi atau harapan ketika memasuki dunia pernikahan: Berharap memiliki rumah tangga yang langgeng dan diberkati Tuhan, bisa mesra dan rukun sampai tua, and the list goes on. Menua bersama, istilah gombalnya kalau di film-film. Apalagi jika kita berpikir sudah memilih pasangan yang seiman dan takut akan Allah, tentu ada sebuah standar keimanan yang berharap dimiliki oleh suami. Realitanya?
“Waktu aku perlu bantuan, bukan kamu yang ada, tapi dia. Ya gimana ga lama-lama aku juga jadi jatuh cinta sama dia?”
Masih ingat waktu itu saya berkata seperti ini ke pacar saya setelah membangun relasi selama 4 tahun…
Marriage
“Mengapa sih, suamiku tidak menginginkan seks sebanyak yang aku mau?”
Pertanyaan ini muncul dalam benak seorang istri yang merasa kebutuhan seksualnya kurang terpenuhi. Rentetan pikiran ngaco pun memberondong hatinya:
Apa aku ini hiperseks?
Apa aku kurang seksi di mata suami?
Atau jangan-jangan suamiku punya WIL (Wanita Idaman Lain)?
***
“Mengapa, sih, suamiku terus menerus meminta berhubungan seks? Apa tidak merasa lelah?”
Pertanyaan ini pun muncul dalam benak seorang istri yang kelelahan. Setelah anak-anak tidur dan dapur bersih, rasanya hanya ingin segera memeluk guling dan tidur lelap. Kelelahan selama seharian mengurus bayi dan membereskan rumah membuat tubuh ingin segera istirahat.
Apa suami tidak paham aku lelah sekali?
Apa dia tidak berpikir mengurus anak dan rumah itu menguras energi?
Hidup adalah tentang pilihan; dari hal sederhana seperti pilihan untuk bangun atau tarik selimut dan tidur lagi, sampai pilihan yang cukup serius seperti mau kerja di mana. Berbagai pilihan selalu menghiasi kehidupan kita karena kita tidak diciptakan sebagai robot yang ‘hidup’ sesuai dengan program. Namun, ada kalanya kita melakukan sesuatu bukan karena kita mau tapi karena ‘memang sudah seperti itu seharusnya’. Termasuk hal memiliki anak dalam pernikahan. Jalan hidup seseorang umumnya adalah menjadi dewasa, bekerja, menikah dan punya anak. Bahkan doa dan harapan yang paling sering terdengar pada hari pernikahan adalah “Semoga cepet dapat momongan, ya!” Padahal belum tentu demikian harapan sang pengantin.
Perceraian juga pernah terbersit dalam pikiran kami saat tahun-tahun pertama menjalani rumah tangga. Masa adaptasi sebagai pasangan suami istri baru, ditambah dengan peliknya aneka permasalahan rumah tangga terutama kondisi ekonomi yang ruwet, pernah membuat saya hampir menyerah. Kami jatuh bangun berjuang mempertahankan relasi kami dan terus berseru menghampiri tahta Allah, memohon belas kasihan-Nya.
“Kalau gue udah merit tapi masih suka masturbasi itu normal ga sih?”
“Kalau pasangan lagi di luar kota terus gue memuaskan diri dengan masturbasi itu salah ga? Daripada gue selingkuh gitu loh, kan mending begini.”
Isu masturbasi ternyata tak hanya persoalan bagi kaum single. Masturbasi juga menjadi isu tersendiri di kalangan pasangan suami istri.
Dinamika hubungan menantu perempuan dan ibu mertua selalu digambarkan sebagai hubungan yang penuh gejolak di sepanjang sejarah dan berbagai latar belakang budaya. Buruknya hubungan dua wanita beda generasi tersebut juga seakan diberi penegasan dengan pemahaman dunia bahwa menantu perempuan dan ibu mertua memang tidak pernah akan bisa akur. Apakah secara kodrat memang benar demikian? Apakah itu adalah suatu kebenaran yang harus kita terima sebagai keadaan yang tak mampu kita ubah?
Bagi kaum lajang, pernikahan sering digambarkan sebagai destinasi dari suatu hubungan romansa yang penuh kebahagiaan. Bahkan cerita-cerita dongeng masa kecil memiliki akhir di saat pasangan utama cerita tersebut menikah dan diakhiri dengan: “…dan akhirnya mereka hidup bahagia selamanya.” Namun bagi yang sudah menjalani kehidupan pernikahan, mereka tahu bahwa hari pernikahan adalah awal dari perjalanan panjang yang penuh suka dan duka. Kehidupan pernikahan bukanlah satu titik destinasi akhir, melainkan awal perjalanan baru yang banyak membutuhkan kasih karunia Tuhan.
Parenting
“Anak remaja gue tu, minta ampun deh ya. Susaaah banget diajak ngobrol!”
“Nah, sama tu. Tapi kalo sama temennya, kok, kayak asik banget ya.”
“Iya. Uda gitu, buku ketinggalan terus. Jadwal ulangan juga ga peduli.”
“Tapi, kalo ditegur, malah galakan dia. Iya, kan?”
“Duh, kok kita senasib ya.”
“Iya loh. Kadang-kadang iri sama anaknya tetangga gue. Sama-sama udah remaja, tapi baik banget.”
“Udahlah, bukan rezeki lo. Hahaha…”
“Iya juga sih…”
Sekilas pembicaraan ibu-ibu yang anaknya sudah mentas remaja ini tidak asing lagi.
“Nanti kalau kamu besar, kamu akan tahu hal itu.”
Demikian jawab Ibu ketika saya menanyakan tentang seks kepadanya. Hayo, siapa yang pernah mendengar (atau memberikan) jawaban serupa ketika ada pertanyaan mengenai seks?
“Dia, kan, anakmu sendiri. Kok, malah cemburu sama anak sendiri?” bisikku dalam hati. Aku tahu situasi demikian sebenarnya tidak baik untuk dibiarkan, tetapi aku sendiri pun tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk memperbaikinya.
Ada yang berpikir seperti itu juga kah?
“Sayang, aku hamil!” seru Nina seraya menunjukkan hasil test pack-nya pagi ini ke Bobi, suaminya, yang baru saja bangun tidur.
Mata sang suami yang tadinya masi setengah tertutup langsung terbuka lebar seiring dengan senyumnya yang merekah, kemudian keduanya berpelukan. Sejak hari itu, Nina mulai mempersiapkan diri. Dia makan dan minum yang lebih sehat serta rajin kontrol ke dokter kandungan. Selain itu, ia juga membaca buku atau unggahan medsos tentang bagaimana mendidik dan membesarkan seorang anak. Bobi tidak mau kalah. Kini dia makin semangat bekerja karena ia tahu bahwa biaya melahirkan dan kebutuhan bayi nanti tidaklah murah. Bobi yang dulu suka nongkrong di kafe bareng temannya kini tidaklah demikian, karena ia simpan uangnya untuk kebutuhan bayinya nanti.
Delapan tahun menjadi guru SMA memberi saya kesempatan bertemu dengan ratusan orang tua dengan berbagai cara mendidik anak-anaknya. Ada yang rela mengantarkan buku yang tertinggal, ada yang masih saja mencatatkan jadwal ulangan anaknya, dan yang protes saat anaknya tidak naik kelas dan memindahkan ke sekolah yang lain. Namun, ada juga yang membiarkan anaknya gagal, menerima konsekuensi dari sekolah bahkan saat harus mengulang pelajaran di kelas yang sama.
Di balik semua cara itu, saya menemukan satu hal yang sama, yaitu setiap orang tua pasti menginginkan anaknya berhasil.
Devotionals
Pandemi Covid-19 yang baru saja berlalu adalah suatu kesempatan buat saya untuk mencoba hal-hal baru. Salah satunya adalah mencoba membuat roti sendiri. Karena pada dasarnya saya tidak suka masak, saya mencari resep yang paling mudah.
Pengalaman membuat roti sendiri ini membawa saya pada pengalaman saya memasak makanan rohani bagi diri saya sendiri.
Hai, Pearlians! Pernahkah kalian membaca berita tentang banyaknya artis yang melakukan operasi plastik demi tampil cantik berseri? Saat ini, operasi plastik sudah bukan hal yang asing. Banyak wanita bahkan pria melakukan operasi plastik dengan berbagai tujuan. Istilah "operasi plastik" yang sering kita dengar adalah bagian dari ilmu kedokteran bedah. Kata "plastik" dalam operasi plastik berasal dari bahasa Yunani plastikos yang artinya membentuk. Jadi, plastik di sini tidak berarti bahwa operasi plastik menggunakan bahan dasar plastik ya, Pearlians!
Pernahkah kita mendapatkan berita mengejutkan? Berita mengejutkan tidak selalu berupa kabar baik. Kadang kita juga mendapatkan kejutan dari berita buruk yang membuat kita gelisah dan takut. Seperti apakah perasaan normal yang muncul saat kita menerima kabar buruk? Bagaimana penghiburan dari Firman Tuhan dapat menguatkan kita menghadapi pergumulan tersebut? Yuk, kita bahas bersama!
Selamat Paskah dan selamat ulang tahun, Majalah Pearl! Yes, hari ini, 10 April, Pearl telah berusia 12 tahun! 😊 Nah, pernahkah Pearlians terpikir bahwa pelayanan yang dilakukan Majalah Pearl ini merupakan salah satu sarana untuk memuridkan para wanita Kristen untuk hidup di dalam kebenaran firman Tuhan?
Pernah enggak Pearlians merasa gelisah dengan rutinitas harian yang dijalani? Dari buka mata sampai tutup mata, pikiran terus berputar dengan berbagai kesibukan dan keperluan yang harus dikerjakan. Tidak jarang kita jadi sulit menikmati hari-hari bersama Tuhan. Masalahnya, pergumulan ini juga bisa berpengaruh pada salah satu disiplin rohani, yaitu saat teduh. Iya, mungkin kita sudah sering mendengar dan membaca bahwa saat teduh itu penting, tetapi sering kali rasanya sulitttt sekali untuk meluangkan waktu bersaat teduh bersama Tuhan secara optimal.
Pearlians tentunya punya ekspektasi atau harapan ketika memasuki dunia pernikahan: Berharap memiliki rumah tangga yang langgeng dan diberkati Tuhan, bisa mesra dan rukun sampai tua, and the list goes on. Menua bersama, istilah gombalnya kalau di film-film. Apalagi jika kita berpikir sudah memilih pasangan yang seiman dan takut akan Allah, tentu ada sebuah standar keimanan yang berharap dimiliki oleh suami. Realitanya?
Others…
“Lebih dari sekadar ego?” Kok, mirip judul lagunya Mawar Eva de Jongh, ya…
Bukan, kita tidak sedang memperbincangkan lagu, melainkan tentang zero waste. Pernah dengar? Mungkin beberapa di antara kita sudah tidak asing, bahkan sudah melakukannya. Namun, buat yang lebih ingin tahu lagi, yuk, kita sama-sama belajar memahami istilah ini.
Halo, Pearlians! Semoga semua dalam keadaan yang baik, semangat, dan bersukacita! Kali ini, kita mau membahas tentang drama Korea. Drakor alias drama Korea sedang trending tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Buktinya, banyak fans meeting diadakan di berbagai negara. Tentunya kita tidak hanya menikmati drama, tetapi juga bisa mengambil pelajaran-pelajaran yang disampaikan melalui drama tersebut, ya! Drama yang mau aku bahas kali ini berjudul "Pinnochio". Siapa yang pernah dengar? Siapa yang pernah nonton? Drama ini tayang pada tahun 2014 dan seru sekali untuk ditonton, lho!
Kondisi Pandemi memang sudah berlalu, namun efek samping dari kondisi tersebut belum sepenuhnya berlalu. Luka mendalam kehilangan keluarga terdekat, efek samping mental yang terguncang, dan masalah kesehatan lainnya mulai bermunculan seperti depresi, kecemasan berlebih, dan tingginya tingkat kekerasan, khususnya yang menyerang usia muda. Jadi kita musti gimana ya? Yuk baca artikel lengkapnya…
Pernahkah Pearlians menggunakan fitur asisten google? Tanpa harus mengetik, fitur ini bisa merespon suara yang masuk ke gawai. Dalam sebuah perjalanan menuju pulang yang begitu macet, seorang anak praremaja meminta kakaknya menceritakan sebuah lelucon kepadanya. Dua jam lebih di mobil berimbas bosan. Sayangnya, si kakak terlalu letih dan memilih tidur saja ketimbang meladeni adiknya. Ah tanya google saja. Sang adik pun membatin dan bersuara…
Barisan remaja berebut war tiket konser idola pujaan mereka. Sekelompok remaja putri yang berteriak histeris saat melihat boyband favorit mereka muncul di layar kaca adalah pemandangan yang biasa. Koleksi poster, photocard, dan cinderamata dengan wajah idola pujaan para gadis remaja dianggap wajar. Namun, wajarkah bila wanita berusia dewasa, apalagi yang telah menikah berperilaku layaknya seorang fangirl? Sehatkah wanita dewasa memiliki celebrity crush seorang bintang Hollywood atau menjadi bagian fandom seorang oppa atau ahjussi idaman di media sosial?
Budaya tato sudah dikenal sejak lama oleh suku-suku yang ada di Indonesia. Kebanyakan tato yang dibuat untuk kepentingan ritual peribadatan kepercayaan mereka pada zaman dahulu dan ritual budaya, kesenian, sebagai penanda status sosial dan identitas kelompok. Kemudian, setelah agama masuk dan akses pendidikan tinggi yang makin terbuka, sebagian suku-suku di Indonesia mulai meninggalkan budaya tato tersebut. Seiring berjalannya waktu, ada pandangan yang negatif kepada seseorang yang membuat tato di tubuhnya. Orang-orang yang membuat tato di tubuhnya pada masa itu dianggap sebagai pelaku kejahatan atau kriminal. Lalu, bagaimana dengan sekarang?
Tulisan-tulisan terbaru
“Lebih dari sekadar ego?” Kok, mirip judul lagunya Mawar Eva de Jongh, ya…
Bukan, kita tidak sedang memperbincangkan lagu, melainkan tentang zero waste. Pernah dengar? Mungkin beberapa di antara kita sudah tidak asing, bahkan sudah melakukannya. Namun, buat yang lebih ingin tahu lagi, yuk, kita sama-sama belajar memahami istilah ini.
Pandemi Covid-19 yang baru saja berlalu adalah suatu kesempatan buat saya untuk mencoba hal-hal baru. Salah satunya adalah mencoba membuat roti sendiri. Karena pada dasarnya saya tidak suka masak, saya mencari resep yang paling mudah.
Pengalaman membuat roti sendiri ini membawa saya pada pengalaman saya memasak makanan rohani bagi diri saya sendiri.
Halo, Pearlians! Semoga semua dalam keadaan yang baik, semangat, dan bersukacita! Kali ini, kita mau membahas tentang drama Korea. Drakor alias drama Korea sedang trending tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Buktinya, banyak fans meeting diadakan di berbagai negara. Tentunya kita tidak hanya menikmati drama, tetapi juga bisa mengambil pelajaran-pelajaran yang disampaikan melalui drama tersebut, ya! Drama yang mau aku bahas kali ini berjudul "Pinnochio". Siapa yang pernah dengar? Siapa yang pernah nonton? Drama ini tayang pada tahun 2014 dan seru sekali untuk ditonton, lho!
Kondisi Pandemi memang sudah berlalu, namun efek samping dari kondisi tersebut belum sepenuhnya berlalu. Luka mendalam kehilangan keluarga terdekat, efek samping mental yang terguncang, dan masalah kesehatan lainnya mulai bermunculan seperti depresi, kecemasan berlebih, dan tingginya tingkat kekerasan, khususnya yang menyerang usia muda. Jadi kita musti gimana ya? Yuk baca artikel lengkapnya…
Baru-baru ini viral beredar video wawancara seorang presenter ternama tanah air yang terkejut saat mendapati sebuah sekolah internasional prestisius yang menyediakan toilet gender neutral. Baginya, tersedianya toilet gender neutral ini bertentangan dengan prinsip iman yang dianutnya. Viralnya berita tersebut membuat banyak orang berpikir pentingnya menemukan sekolah yang tepat bagi anak-anak kita.
“Mengapa sih, suamiku tidak menginginkan seks sebanyak yang aku mau?”
Pertanyaan ini muncul dalam benak seorang istri yang merasa kebutuhan seksualnya kurang terpenuhi. Rentetan pikiran ngaco pun memberondong hatinya:
Apa aku ini hiperseks?
Apa aku kurang seksi di mata suami?
Atau jangan-jangan suamiku punya WIL (Wanita Idaman Lain)?
***
“Mengapa, sih, suamiku terus menerus meminta berhubungan seks? Apa tidak merasa lelah?”
Pertanyaan ini pun muncul dalam benak seorang istri yang kelelahan. Setelah anak-anak tidur dan dapur bersih, rasanya hanya ingin segera memeluk guling dan tidur lelap. Kelelahan selama seharian mengurus bayi dan membereskan rumah membuat tubuh ingin segera istirahat.
Apa suami tidak paham aku lelah sekali?
Apa dia tidak berpikir mengurus anak dan rumah itu menguras energi?
“Anak remaja gue tu, minta ampun deh ya. Susaaah banget diajak ngobrol!”
“Nah, sama tu. Tapi kalo sama temennya, kok, kayak asik banget ya.”
“Iya. Uda gitu, buku ketinggalan terus. Jadwal ulangan juga ga peduli.”
“Tapi, kalo ditegur, malah galakan dia. Iya, kan?”
“Duh, kok kita senasib ya.”
“Iya loh. Kadang-kadang iri sama anaknya tetangga gue. Sama-sama udah remaja, tapi baik banget.”
“Udahlah, bukan rezeki lo. Hahaha…”
“Iya juga sih…”
Sekilas pembicaraan ibu-ibu yang anaknya sudah mentas remaja ini tidak asing lagi.
Dilahirkan dalam keadaan sehat dan bertumbuh aktif melayani di gereja dan komunitas Kristen adalah anugerah. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa di usia 37 tahun, aku akan mengalami penyakit aneh yang setelah ditelusuri berhubungan dengan okultisme (ilmu sihir)—atau secara gamblang kita menyebutnya kuasa gelap. Di pagi hari akhir Desember 2021, aku mulai mendengar suara-suara asing yang berbicara dalam bahasa daerahku, bahasa Nias. Mereka seolah ingin berkomunikasi padaku, dan sebenarnya ini bukan pengalaman pertama kalinya.
Pernahkah Pearlians menggunakan fitur asisten google? Tanpa harus mengetik, fitur ini bisa merespon suara yang masuk ke gawai. Dalam sebuah perjalanan menuju pulang yang begitu macet, seorang anak praremaja meminta kakaknya menceritakan sebuah lelucon kepadanya. Dua jam lebih di mobil berimbas bosan. Sayangnya, si kakak terlalu letih dan memilih tidur saja ketimbang meladeni adiknya. Ah tanya google saja. Sang adik pun membatin dan bersuara…
“Nanti kalau kamu besar, kamu akan tahu hal itu.”
Demikian jawab Ibu ketika saya menanyakan tentang seks kepadanya. Hayo, siapa yang pernah mendengar (atau memberikan) jawaban serupa ketika ada pertanyaan mengenai seks?
Barisan remaja berebut war tiket konser idola pujaan mereka. Sekelompok remaja putri yang berteriak histeris saat melihat boyband favorit mereka muncul di layar kaca adalah pemandangan yang biasa. Koleksi poster, photocard, dan cinderamata dengan wajah idola pujaan para gadis remaja dianggap wajar. Namun, wajarkah bila wanita berusia dewasa, apalagi yang telah menikah berperilaku layaknya seorang fangirl? Sehatkah wanita dewasa memiliki celebrity crush seorang bintang Hollywood atau menjadi bagian fandom seorang oppa atau ahjussi idaman di media sosial?
Budaya tato sudah dikenal sejak lama oleh suku-suku yang ada di Indonesia. Kebanyakan tato yang dibuat untuk kepentingan ritual peribadatan kepercayaan mereka pada zaman dahulu dan ritual budaya, kesenian, sebagai penanda status sosial dan identitas kelompok. Kemudian, setelah agama masuk dan akses pendidikan tinggi yang makin terbuka, sebagian suku-suku di Indonesia mulai meninggalkan budaya tato tersebut. Seiring berjalannya waktu, ada pandangan yang negatif kepada seseorang yang membuat tato di tubuhnya. Orang-orang yang membuat tato di tubuhnya pada masa itu dianggap sebagai pelaku kejahatan atau kriminal. Lalu, bagaimana dengan sekarang?
Pearlians, khususnya bagi yang saat ini belum menikah atau bahkan belum menemukan pasangan, apakah kamu takut dan ragu ketika membaca berita saat ini? Atau kamu tetap terus berpengharapan dalam Tuhan, bahkan yakin sanggup bersinar di tengah keredupan bersama-Nya? Mari kita menengok pada salah satu contoh wanita yang diangkat oleh penulis Amsal. Siapakah wanita yang dimaksud ini?
Hai, Pearlians! Pernahkah kalian membaca berita tentang banyaknya artis yang melakukan operasi plastik demi tampil cantik berseri? Saat ini, operasi plastik sudah bukan hal yang asing. Banyak wanita bahkan pria melakukan operasi plastik dengan berbagai tujuan. Istilah "operasi plastik" yang sering kita dengar adalah bagian dari ilmu kedokteran bedah. Kata "plastik" dalam operasi plastik berasal dari bahasa Yunani plastikos yang artinya membentuk. Jadi, plastik di sini tidak berarti bahwa operasi plastik menggunakan bahan dasar plastik ya, Pearlians!
Hidup adalah tentang pilihan; dari hal sederhana seperti pilihan untuk bangun atau tarik selimut dan tidur lagi, sampai pilihan yang cukup serius seperti mau kerja di mana. Berbagai pilihan selalu menghiasi kehidupan kita karena kita tidak diciptakan sebagai robot yang ‘hidup’ sesuai dengan program. Namun, ada kalanya kita melakukan sesuatu bukan karena kita mau tapi karena ‘memang sudah seperti itu seharusnya’. Termasuk hal memiliki anak dalam pernikahan. Jalan hidup seseorang umumnya adalah menjadi dewasa, bekerja, menikah dan punya anak. Bahkan doa dan harapan yang paling sering terdengar pada hari pernikahan adalah “Semoga cepet dapat momongan, ya!” Padahal belum tentu demikian harapan sang pengantin.
"Aduh, lelah banget, nih, dengar pertanyaan yang gak berujung! Mulai dari pertanyaan:
'Kapan punya pacar?'
Kalau sudah punya pacar, pasti ditanya lagi:
'Kapan menikah?'
Lalu kalau sudah menikah, ada lagi pertanyaan-pertanyaan berikutnya:
'Kapan punya anak?'
'Kapan anaknya dikasih adik?'
'Ayo nambah lagi, kan belum ada yang laki-laki!'
Pokoknya gak ada habisnya, deh!"
Demikianlah curhatan salah satu teman kantor saya yang lelah dengan ekspektasi sosial atas dirinya. Ada yang mengalami hal yang sama?
Dulu, bila ada yang bertanya, “Kamu bertemu pasanganmu di mana?”, jawaban yang umum adalah “di gereja”, “dikenalin teman atau saudara”, “di sekolah”, “di tempat kerja”, dsb. Di kalangan Kristen sendiri, mungkin ada yang agak malu-malu atau sungkan bila menjawabnya dengan “dating apps”. Seperti masih ada paradigma yang kurang baik tentang dating apps itu sendiri. Hmm.. adakah Pearlians yang mengalaminya? Lalu, benarkah stigma demikian masih dipertahankan dalam era perkembangan teknologi seperti sekarang? Yuk, mari kita bahas.
“Jika aku tidak cocok dengan standar kecantikan di generasi ini, maka aku harus menjadi standar yang berbeda!”
Itulah yang diungkapkan seorang anggota girlband MAMAMOO asal Korea Selatan bernama Hwasa. Ia dianggap tidak sesuai dengan standar kecantikan Korea Selatan yang harus memiliki lipatan mata, kulit putih, badan langsing, dan tubuh yang tinggi.
“Dia, kan, anakmu sendiri. Kok, malah cemburu sama anak sendiri?” bisikku dalam hati. Aku tahu situasi demikian sebenarnya tidak baik untuk dibiarkan, tetapi aku sendiri pun tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk memperbaikinya.
Ada yang berpikir seperti itu juga kah?
Pernahkah kita mendapatkan berita mengejutkan? Berita mengejutkan tidak selalu berupa kabar baik. Kadang kita juga mendapatkan kejutan dari berita buruk yang membuat kita gelisah dan takut. Seperti apakah perasaan normal yang muncul saat kita menerima kabar buruk? Bagaimana penghiburan dari Firman Tuhan dapat menguatkan kita menghadapi pergumulan tersebut? Yuk, kita bahas bersama!


Salah satu pertanyaan terbesar ketika saya hamil dulu adalah, “Bagaimana aku yang tidak kudus dan sangat lemah ini bisa mendidik anakku kelak? Jangankan mendidik orang lain, aku aja masih jatuh bangun.”
Setelah punya anak, pikiran yang sama tetap muncul, bahkan lebih sering. Hanya sekarang… saya sudah tidak terlalu merasa patah semangat ketika pikiran seperti itu muncul. Kenapa? Karena Tuhan mengajarkan saya dua hal penting…