
Blog Majalah Pearl
Sambil meminum secangkir teh,
selamat membaca artikel-artikel kami!
Hati yang Tangguh
Delapan tahun menjadi guru SMA memberi saya kesempatan bertemu dengan ratusan orang tua dengan berbagai cara mendidik anak-anaknya. Ada yang rela mengantarkan buku yang tertinggal, ada yang masih saja mencatatkan jadwal ulangan anaknya, dan yang protes saat anaknya tidak naik kelas dan memindahkan ke sekolah yang lain. Namun, ada juga yang membiarkan anaknya gagal, menerima konsekuensi dari sekolah bahkan saat harus mengulang pelajaran di kelas yang sama.
Di balik semua cara itu, saya menemukan satu hal yang sama, yaitu setiap orang tua pasti menginginkan anaknya berhasil.
Menjadi Teman Bagi Mereka yang Tertawan
Pertemuan pertama suatu kelas Filsafat diisi kegiatan dari dosennya, Prof. Radisson dengan permintaannya, “Aku ingin mengisi lembar kertas yang baru saja kubagikan dengan tiga kata sederhana, “Tuhan itu mati,” bersama dengan tanda tangan kalian.”
Segera mahasiswanya menuliskan deklarasi tersebut, karena tidak ingin mendapatkan nilai terendah, kecuali salah satu mahasiswa dari kelas tersebut, Josh Wheaton.
Panggilan Seorang Wanita
Waktu belum menikah, orang akan bertanya, “Kapan nikah?”
Waktu sudah menikah, orang akan bertanya, “Kapan punya anak?”
Waktu sudah punya anak satu, orang akan bertanya, “Kapan punya anak kedua dan ketiga?”
Jadi ibu rumah tangga, orang akan bertanya, “Ga sayang gelarnya? Susah-susah sekolah kok cuma di rumah aja?”
Jadi wanita karir, orang akan bertanya, “Ga sayang anak? Kok dibiarin sama mbak aja?”
Apakah ada Perlians yang pernah mengalaminya?
Oversharing di Sosmed, Bijakkah?
Tujuh tahun yang lalu, ketika saya mulai kuliah di jurusan psikologi, isu kesehatan mental masih belum dilihat sebagai hal yang penting di kalangan banyak orang. Bahkan, beberapa orang sempat mempertanyakan keputusan saya, “Kenapa ambil psikologi? Nanti ngurusin orang sakit jiwa, lho!”
Namun, saya bersyukur karena saat ini isu kesehatan mental sudah lebih “disambut” oleh masyarakat…
All for God
“Rustig, rustig,” yang berarti “tenang, tenang,” sering ia ucapkan sebagai kata-kata penenang ketika terdapat perselisihan pendapat dalam sebuah rapat. Siapakah dia?
Dua Wanita yang Mencintai Satu Pria
Dinamika hubungan menantu perempuan dan ibu mertua selalu digambarkan sebagai hubungan yang penuh gejolak di sepanjang sejarah dan berbagai latar belakang budaya. Buruknya hubungan dua wanita beda generasi tersebut juga seakan diberi penegasan dengan pemahaman dunia bahwa menantu perempuan dan ibu mertua memang tidak pernah akan bisa akur. Apakah secara kodrat memang benar demikian? Apakah itu adalah suatu kebenaran yang harus kita terima sebagai keadaan yang tak mampu kita ubah?
Istirahatmu jugalah Ibadahmu
Istirahat adalah hal yang sangat penting dalam roda kehidupan. Sebuah pekerjaan tidak berjalan maksimal apabila tidak disertai istirahat yang cukup. Menjaga kekudusan hidup melalui waktu istirahat sangatlah penting. Sebagai contoh, di dalam Alkitab, sang penulis Kejadian menuliskan bahwa Allah beristirahat pada “hari ketujuh” (Kejadian 2:2-3), hari yang dikuduskan untuk menikmati ciptaan-Nya. Begitu pula dengan manusia yang juga mendapatkan waktu untuk beristirahat bersama Allah. Oke, jadi seperti apa istirahat itu sebenarnya?
Doa saat Galau Berat
Ketika membaca kitab Mazmur, banyak mazmur yang ditulis saat pemazmur sedang resah. Dari sini, saya belajar banyak hal bagaimana saya sebagai orang Kristen bisa merespons situasi yang kelam di dalam iman—yang gak selalu mudah. Misalnya, ketika sang pemazmur berteriak, dia mencurahkan seluruh isi hatinya ke Allah dengan berpegang erat kepada karakter Allah dan janji-janji-Nya. Ini menunjukkan sebuah hubungan yang sangat intim akan pemazmur dan Allahnya. Jadilah, berangkat dari sini, saya ingin “mencontoh” sang pemazmur dengan menjadi penyair “abal-abal”. Hehe… Semoga mazmur doa saya ini bisa menguatkan teman-teman yang sedang dalam pergumulan berat juga.
Suara Para Anonim
Akhir-akhir ini, penggunaan akun anonim dan pseudonim di media sosial cukup naik daun karena beberapa pengguna akun tersebut membantu mengungkap kasus kriminal maupun memberikan informasi mengenai dengan skandal figur publik. Melihat peristiwa seperti ini, publik dapat menyaksikan keuntungan dari menggunakan akun anonim. Cukup banyak yang mendukung, bahkan membantu menyebarkan informasi atau memberikan informasi terkait kasus yang diusut.
Empat Kunci untuk Berhenti Menghanyutkan Diri dari Media Sosial
Adakah dari Pearlians yang suka lupa waktu ketika memakai media sosial? Jika ya, Pearlians tidak sendirian karena saya juga mengalaminya. Hehehe… Secara pribadi, saya bukan kecanduan gadget, sih… Saya tetap akan berhenti dan memberi waktu penuh pada pekerjaan lainnya. Namun, saat media sosial menampilkan quotes yang nampol, perhatian saya jadi sangat mudah teralihkan. Rasanya gatel kalau nggak scrolling, nggak update sesuatu, nggak kasih respons atau say hi di media sosial. Hayo, ada yang begini juga, nggak?
Healing yang Sejati
Akhir-akhir ini, ada banyak istilah yang menjadi viral di media sosial karena istilah tersebut diikuti oleh para pengguna media sosial terutama di Indonesia. Salah satu istilah yang sedang viral hari ini adalah istilah healing. Apa, sih, arti healing itu?
Belajar Dari Drakor “Doctor Lawyer”
Siapa disini yang suka nonton drakor a.k.a Drama Korea? Sepertinya demam drama Korea sudah menyebar di semua kalangan ya? Selain karena ceritanya memang bagus dan episode yang tidak terlalu panjang, drama Korea dibuat dengan acting super niat dari pemainnya. Lewat drakor kita juga bisa melihat tempat-tempat keren dan makanan-makanan enak di Korea. Wajar sekali jika banyak orang jadi suka, dan tidak sedikit yang ingin mengunjungi lokasinya di Korea sana.
Selain untuk leisure, kita bisa loh memetik pelajaran dari menonton drakor. Apa aja sih?
Pilah Pilih Memakai Media Sosial
Hello, Pearlians! How are you? Semoga dalam keadaan baik, sehat, dan bahagia ya! Kita sudah melalui lebih dari setengah bagian tahun 2022 dan memasuki bulan kedelapan. Bagaimana? Adakah cerita menarik? Adakah pelajaran hidup dan pengertian baru yang disingkapkan?
A Tough Journey, yet Precious for the Future
Salah satu pertanyaan terbesar ketika saya hamil dulu adalah, “Bagaimana aku yang tidak kudus dan sangat lemah ini bisa mendidik anakku kelak? Jangankan mendidik orang lain, aku aja masih jatuh bangun.”
Setelah punya anak, pikiran yang sama tetap muncul, bahkan lebih sering. Hanya sekarang… saya sudah tidak terlalu merasa patah semangat ketika pikiran seperti itu muncul. Kenapa? Karena Tuhan mengajarkan saya dua hal penting…
Smile, You are on Camera
Di rumah kita mungkin tidak ada CCTV, tetapi kalau ada anak-anak, maka mereka lebih canggih daripada CCTV—bahkan yang lebih mutakhir sekalipun. Kenapa begitu? Karena anak-anak tidak hanya merekam setiap perilaku, tetapi mereka meniru apa yang sudah mereka rekam. Siapa yang mereka rekam? Tantangan apa yang kita sebagai orangtua hadapi?
Holiness in Parenting
Peribahasa Tionghoa kuno mengatakan, “Menegakkan sebatang pohon memerlukan waktu 10 tahun, mendidik seorang manusia dengan sukses memerlukan waktu 100 tahun.” Nah, kata “dengan sukses” di sini tentu bisa punya banyak makna, ya. Namun, apabila dilihat dari kacamata Kekristenan, mendidik anak dengan sukses berarti, “Menjalankan prinsip-prinsip kebenaran Firman Tuhan dalam pola pengasuhan dan selalu memohon pertolongan-Nya.”
Serving God Through Your Marriage
Bagi kaum lajang, pernikahan sering digambarkan sebagai destinasi dari suatu hubungan romansa yang penuh kebahagiaan. Bahkan cerita-cerita dongeng masa kecil memiliki akhir di saat pasangan utama cerita tersebut menikah dan diakhiri dengan: “…dan akhirnya mereka hidup bahagia selamanya.” Namun bagi yang sudah menjalani kehidupan pernikahan, mereka tahu bahwa hari pernikahan adalah awal dari perjalanan panjang yang penuh suka dan duka. Kehidupan pernikahan bukanlah satu titik destinasi akhir, melainkan awal perjalanan baru yang banyak membutuhkan kasih karunia Tuhan.
Loving Your Spouse 101 #Part 2
Mencintai diri sendiri dapat berarti menerima dan menghargai diri sebagaimana adanya diri kita dengan segala kelebihan dan kekurangan kita, tetapi juga dapat berarti sebuah bentuk keegoisan karena hanya memperhatikan diri sendiri. Mencintai pasangan seperti kita mencintai diri kita selayaknya dilakukan dalam pengertian yang pertama: menerima dan menghargai dia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ini juga mengisyaratkan bahwa untuk mencintai pasangan, sebagaimana kita mencintai diri sendiri, juga membutuhkan pengorbanan. Dapatkah kita mencintai pasangan kita ketika wajahnya mulai berkerut?
Loving Your Spouse 101 #Part 1
“We fall in love by chance. We stay in love by choice.”
Kutipan tersebut adalah sebuah kutipan yang pernah saya baca entah dalam media sosial atau artikel tentang percintaan. Biasanya, kutipan ini dipakai untuk mengingatkan pasangan bahwa tetap mencintai pasangannya adalah sebuah pilihan—terutama ketika mereka mulai goyah, ragu, atau merasa kehilangan rasa cintanya.
Can We Back Off?
“Kak, kalau aku sudah berhubungan seks dengan pacarku, apakah Tuhan mengampuni aku?”
Dengan sesenggukan, remaja perempuan ini bercerita kepada saya bahwa pacarnya pernah mengajak berhubungan seks dengannya. Pada saat itu ia mengaku tidak mengerti apa yang mereka lakukan, tetapi setelah lebih banyak belajar barulah ia tahu bahwa itu adalah hubungan seks. Ia merasa rusak dan tidak berharga. Terlihat sekali bahwa ia merasa hancur hati ketika datang untuk bercerita kepada saya.
Pearlians, apakah kita pernah memiliki pertanyaan serupa dengan remaja perempuan ini? Tidak harus tentang seks tentunya, mungkin kita pernah melakukan dosa yang membuat kita merasa begitu hancur dan rusak. Kita tidak berani berhadapan dengan Tuhan karena merasa begitu kotor dan hina. Saking hinanya, kita merasa bahwa Tuhan tidak akan mengampuni kita.