
Blog Majalah Pearl
Sambil meminum secangkir teh,
selamat membaca artikel-artikel kami!
A Tough Journey, yet Precious for the Future
Salah satu pertanyaan terbesar ketika saya hamil dulu adalah, “Bagaimana aku yang tidak kudus dan sangat lemah ini bisa mendidik anakku kelak? Jangankan mendidik orang lain, aku aja masih jatuh bangun.”
Setelah punya anak, pikiran yang sama tetap muncul, bahkan lebih sering. Hanya sekarang… saya sudah tidak terlalu merasa patah semangat ketika pikiran seperti itu muncul. Kenapa? Karena Tuhan mengajarkan saya dua hal penting…
Smile, You are on Camera
Di rumah kita mungkin tidak ada CCTV, tetapi kalau ada anak-anak, maka mereka lebih canggih daripada CCTV—bahkan yang lebih mutakhir sekalipun. Kenapa begitu? Karena anak-anak tidak hanya merekam setiap perilaku, tetapi mereka meniru apa yang sudah mereka rekam. Siapa yang mereka rekam? Tantangan apa yang kita sebagai orangtua hadapi?
Holiness in Parenting
Peribahasa Tionghoa kuno mengatakan, “Menegakkan sebatang pohon memerlukan waktu 10 tahun, mendidik seorang manusia dengan sukses memerlukan waktu 100 tahun.” Nah, kata “dengan sukses” di sini tentu bisa punya banyak makna, ya. Namun, apabila dilihat dari kacamata Kekristenan, mendidik anak dengan sukses berarti, “Menjalankan prinsip-prinsip kebenaran Firman Tuhan dalam pola pengasuhan dan selalu memohon pertolongan-Nya.”
Serving God Through Your Marriage
Bagi kaum lajang, pernikahan sering digambarkan sebagai destinasi dari suatu hubungan romansa yang penuh kebahagiaan. Bahkan cerita-cerita dongeng masa kecil memiliki akhir di saat pasangan utama cerita tersebut menikah dan diakhiri dengan: “…dan akhirnya mereka hidup bahagia selamanya.” Namun bagi yang sudah menjalani kehidupan pernikahan, mereka tahu bahwa hari pernikahan adalah awal dari perjalanan panjang yang penuh suka dan duka. Kehidupan pernikahan bukanlah satu titik destinasi akhir, melainkan awal perjalanan baru yang banyak membutuhkan kasih karunia Tuhan.
Loving Your Spouse 101 #Part 2
Mencintai diri sendiri dapat berarti menerima dan menghargai diri sebagaimana adanya diri kita dengan segala kelebihan dan kekurangan kita, tetapi juga dapat berarti sebuah bentuk keegoisan karena hanya memperhatikan diri sendiri. Mencintai pasangan seperti kita mencintai diri kita selayaknya dilakukan dalam pengertian yang pertama: menerima dan menghargai dia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ini juga mengisyaratkan bahwa untuk mencintai pasangan, sebagaimana kita mencintai diri sendiri, juga membutuhkan pengorbanan. Dapatkah kita mencintai pasangan kita ketika wajahnya mulai berkerut?
Loving Your Spouse 101 #Part 1
“We fall in love by chance. We stay in love by choice.”
Kutipan tersebut adalah sebuah kutipan yang pernah saya baca entah dalam media sosial atau artikel tentang percintaan. Biasanya, kutipan ini dipakai untuk mengingatkan pasangan bahwa tetap mencintai pasangannya adalah sebuah pilihan—terutama ketika mereka mulai goyah, ragu, atau merasa kehilangan rasa cintanya.
Can We Back Off?
“Kak, kalau aku sudah berhubungan seks dengan pacarku, apakah Tuhan mengampuni aku?”
Dengan sesenggukan, remaja perempuan ini bercerita kepada saya bahwa pacarnya pernah mengajak berhubungan seks dengannya. Pada saat itu ia mengaku tidak mengerti apa yang mereka lakukan, tetapi setelah lebih banyak belajar barulah ia tahu bahwa itu adalah hubungan seks. Ia merasa rusak dan tidak berharga. Terlihat sekali bahwa ia merasa hancur hati ketika datang untuk bercerita kepada saya.
Pearlians, apakah kita pernah memiliki pertanyaan serupa dengan remaja perempuan ini? Tidak harus tentang seks tentunya, mungkin kita pernah melakukan dosa yang membuat kita merasa begitu hancur dan rusak. Kita tidak berani berhadapan dengan Tuhan karena merasa begitu kotor dan hina. Saking hinanya, kita merasa bahwa Tuhan tidak akan mengampuni kita.
How to Choose the Right Partner to Marry
Hidup kita merupakan hasil dari serangkaian keputusan yang kita ambil. Ada yang pernah berkata bahwa dua keputusan yang paling mengubahkan hidup kita adalah pilihan karir yang kita tekuni dan pilihan pasangan hidup. Dalam memilih pasangan hidup, banyak yang memilih berdasarkan perasaan cinta, faktor materi, dan banyak hal lainnya. Namun, bagaimanakah cara paling bijak untuk memilih pasangan hidup yang berkenan kepada Tuhan? Melalui bukunya, The Sacred Search, Gary Thomas memberikan banyak petunjuk untuk kaum lajang agar dapat memilih dengan bijaksana sehingga dapat membangun pernikahan yang sehat dan memuliakan Tuhan.
Hai, “Rubah Kecil”, Keluarlah dari Pagar Kami: Sebuah Cerita Pendek
“Fan, menurutmu wajar, nggak, sih, kalau aku ingin pelukan sama Kak Darryl?”
Fanny mengerutkan dahi ketika mendengar pertanyaanku barusan. “Memangnya ada yang berkomentar begitu, The?” dia balik bertanya.
“Hmmm… nggak yang seblak-blakan itu, sih. Tapi, aku merasa aneh aja kalau pelukan sama dia,” jawabku sambil mendesah dan menatap embun di gelas iced lemon tea-ku.
“Aneh gimana maksudnya? Ada perasaan nggak nyaman, canggung, atau malah rasa bersalah kalau misalnya kamu peluk dia?” Fanny bertanya lebih lanjut.
Mendengar pertanyaan Fanny, aku mengangguk dan membalas, “I guess all of them.”
“Ohh…” kali ini Fanny tersenyum. “Apa yang bikin kamu merasa kayak gitu?”
Purity in Sexuality
Setiap kali saya melihat pantai, saya teringat ucapan orang tua saya saat kami sedang bermain di pantai. Ayah saya selalu mengingatkan, “Mainnya jangan lewat batas tali ini ya,” sambil menunjuk pada tali pembatas yang terbentang lebar. “Kalau lewat tali itu berbahaya, nanti bisa tenggelam,” ayah saya melanjutkan ucapannya.
Tentu saja tali pembatas di pantai bukanlah satu-satunya batasan dalam keseharian kita. Namun sayangnya, tidak semua batasan tersebut jelas memisahkan mana yang boleh, dan mana yang tidak boleh. Salah satu yang banyak mencari pertanyaan anak-anak muda yang sedang menjalin cerita cinta adalah apa batasan sentuhan fisik dalam berpacaran.
Purified For His Glory: Pearl’s 11th Anniversary
Hai, Pearlians! Tidak terasa bahwa Majalah Pearl telah berusia 11 tahun, tepatnya pada tanggal 10 April 2022 lalu. Artinya, sudah 11 tahun pula Majalah Pearl hadir sebagai teman seperjalanan Pearlians untuk menghidupi kehidupan yang dikuduskan. Meskipun ada kalanya Majalah Pearl mengalami pasang-surut, tetapi hanya karena kasih karunia Tuhan sajalah kami bisa terus melayani Pearlians.
Berbicara mengenai kekudusan hidup, perwakilan dari tim Majalah Pearl juga ingin membagikan perjalanan mereka, nih…
Ditajamkan untuk Makin Dikuatkan
Suatu hari, aku dan sahabatku ingin pergi bermain-main di area Bogor menuju puncak. Kami berencana pergi ke Taman Safari untuk menghabiskan waktu. Saat kami mulai memasuki area penangkaran singa dan macan, kami melihat betapa tenangnya kawanan singa itu duduk-duduk sambil menatap ke arah mobil kami yang sedang melintas. Namun, kami tahu ketenangan yang ditunjukkan itu bukan sifat asli yang muncul hewan-hewan itu melihat mangsa di depannya. Jadi, orang yang mengenal sifat hewan-hewan tadi, tentu tidak akan turun dari mobil dan menghampirinya. Alkitab sendiri mencatat, singa tidak akan mundur terhadap apapun. Lantas bagaimana sifat seperti ini disebut kuat?
Siapa Takut jadi Beda?
“Aduuh, kamu ga usah sok suci deh! Yang lain aja ngelakuin, masa kamu ga mau? Itu mah sudah biasa, ga usah terlalu polos!”
Nah, siapa yang sering denger kata-kata ini? Kata-kata ini biasanya kita dengar kalau kita akan mengambil pilihan yang berbeda dari pilihan dunia. Biasanya keputusan kita itu adalah sesuatu yang menyenangkan hati Allah, sesuai perintah Allah, tapi aneh di mata dunia.
Fear Of Missing Out
“Apa ya Outfit of the Day buat bahan posting hari ini, besok, dan lusa? Kalo ngga posting teratur, bisa-bisa follower ngga nambah-nambah!”
“Drakor ini rame banget sih dibahas di IG! Waduh, harus nonton nih! Biar ga ketinggalan hype!”
“Beli rumah di daerah mana ya? Perumahan A lagi ada promo sampai akhir bulan, banyak temen kantor yang udah teken kontrak, tapi sebenernya Apartemen B lebih praktis soalnya dekat kantor.”
“Aduh! Ini tas limited edition! Beli ngga ya? Lagi trend banget, nih, soalnya!”
Ladies, adakah yang pernah menggumulkan hal-hal seperti kalimat-kalimat di atas?
How to be Holy, when We Feel We are Not
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kudus adalah “suci dan murni”. Kalau dibilang bahwa sebagai orang percaya kita adalah orang-orang kudus, maka itu berarti Tuhan memanggil kita untuk menjadi suci dan murni. Pertanyaannya, bagaimana kita dapat menjadi kudus?
God is Holy, So What?: Ulasan Buku “Holier than Thou”
“Kalau Allah itu kudus, maka Ia tak berdosa.
Kalau Allah tak berdosa, maka Ia tak bisa berbuat dosa padamu.
Kalau Allah tak bisa berbuat dosa padamu,
tidakkah itu membuat Allah sebagai pribadi yang terpercaya?”
Kutipan tersebut berada di sinopsis buku Holier than Thou.
Menjadi Kudus, Membayar Harga
“Lupa tadi, taro di mana yah itu barang? Padahal barang itu aku simpen ditempat yang aman, saking amannya aku lupa taro di mana. Huft.“
Nah, lo… Siapa yang pernah ngalamin ini? Saking mau memperkuat proteksi, barang tersebut dipisahkan dari barang yang lain, diletakan pada tempat paling aman, dan tersembunyi. Bila perlu, anti rayap, suhu kondusif, pencahayaan yang cukup, dan lain-lain. Namun, manusia ya ada aja lupanya, karena apa pun yang kita pisahkan dari kondisi pada umumnya, tetap ada risikonya: Bisa hilang, rusak, atau jadi sangat terawat karena mendapat tempat khusus yang dikondisikan perawatannya. Lalu, apa hubungannya dengan pembahasan kita di Pearl kali ini?
Mengenal Roh Kudus
Setelah Yesus Kristus lahir, disalibkan, bangkit dan naik ke surga, terjadilah peristiwa turunnya Roh Kudus. Peristiwa tersebut belum diartikulasikan dalam doktrin Tritunggal, sehingga banyak orang yang salah memahami konsep Tuhan dalam kekristenan. Syukur kepada Tuhan, Ia memilih orang-orang untuk menjelaskan hubungan antara Allah, Kristus dan Roh Kudus. Mereka bukan tiga melainkan satu. Bila ada orang-orang yang masih bingung, saya percaya hanya pewahyuan dari Tuhan yang memampukan seseorang untuk memahami konsep ketuhanan Tritunggal sepenuhnya.
A Woman after God’s Heart
“And the new Miss Universe is….. India.”
Seketika suasana dag-dig-dug di Universe Dome, Eilat, Israel, berubah menjadi perayaan besar. Sebuah mahkota yang sangat indah diberikan kepada Harnaaz Sandhu dari India yang dinobatkan sebagai Miss Universe 2021 pada bulan Desember lalu. Harnaaz Sandhu dan semua putri yang mengikuti ajang kecantikan tersebut pasti sudah diseleksi sesuai dengan kriteria dan standard yang ada, baik dalam hal fisik maupun intelektual. Standard tersebut membuat tidak semua wanita bisa menjadi putri di negaranya dan menjadi Miss Universe. Namun, ada satu standard yang bisa menjadikan kita semua, wanita Allah, “a woman after God’s heart”.
Sanctified For Living In The Truest Sanctuary
“Bagi saya, berada di rumah terasa seperti sedang diproses dalam ‘api penyucian’.” Kalimat tersebut diungkapkan oleh teman saya pada akhir 2020, ketika dia menceritakan pengalamannya selama di rumah—sejak pandemi Covid-19 mengharuskan kami untuk #belajardirumahaja/#belajardiasramaaja